Scroll to top

Under Pressure – Under Pleasure

Dinamika Seni Rupa: Tantangan Personal, Identitas Seniman, dan Lingkungan Sosial

Sebuah cerita singkat, tapi ruwet.

Penjelajah bentuk: garis tegas, samar, terputus, gelap, terang—semua menjadi bagian dari proses kreatif/karya seni. Memilih media, menentukan material, cat dan sejenisnya, memulai sketsa, menyusun komposisi, mencari warna, hingga menyelesaikan karya.

Pertanyaannya sederhana tapi tajam: mampu membeli alat atau tidak? Itu pun sudah menjadi tantangan tersendiri bagi seorang seniman.

Lalu apa yang terjadi? Banyak berhadapan dengan masalah materi, tekanan psikologis, dan tuntutan pembuktian—baik kepada keluarga, masyarakat, maupun diri sendiri. Apakah ini hanya keresahan pribadiku? Kadang keinginan untuk berkarya besar, tapi tak punya alat.

Saya teringat nasihat dari seorang maestro:

“Tidak punya cat, pakailah arang. Tidak ada nasi, jualah kacang.”

Zaman telah berubah, Tuan S. Sudjojono yang saya hormati,  sebagai lintas generasi harus memahami persoalan baru dengan perspektif baru—bukan hanya dengan narasi lama.

Di sinilah letak tantangan zaman. Jalan seorang seniman tidak lurus—panjang dan berliku. Ada banyak pilihan pekerjaan lain dalam hidup ini. Tapi apakah cukup menjadi bagian dari barisan panjang seniman ambisius?

Kesabaran saya sedang diuji. Saya berada di titik terendah dalam hidup, dan bertanya pada diri sendiri: Apakah harus terus di jalan kesenian yang sudah lama diperjuangkan, atau mencari jalan baru?

Ternyata tak cukup hanya dengan referensi, teknik, atau bakat. Melukis juga soal mental—mental eksekusi. Apakah ide di kepala bisa terwujud, atau justru hancur? Rasanya… nano-nano. Namun semua itu bagian dari proses: memahami, belajar, menyadari, hingga menjadikannya sebagai bagian dari kelanjutan hidup.

Saat ini, saya lebih memilih berpikir sederhana.

Saya lahir dan tumbuh di desa. Kini saya hidup dan berkarya di kota. Dahulu, saya merasa norak saat melihat wisatawan datang menikmati panorama dan suasana desa di kampung halaman. Kini, saya sendiri menjadi wisatawan yang norak saat kembali ke desa melihat pemandangan alam dan sekitarnya. Begitulah hidup. Kadang tanpa sadar kita berjalan jauh. Tahu-tahu sudah berada di ketinggian—3.159 MDPL.

Pengalaman hidup seperti inilah yang kemudian saya eksplorasi ke dalam lukisan. Kadang musik bisa membuka kembali kenangan—momentum untuk mengingat pengalaman empiris. Hidup dengan pasang surut mengajarkan saya rasa syukur—terhadap pemahaman, pengalaman, dan peristiwa yang membentuk saya. Hari ini saya mendengar musik yang sama, tapi dengan semangat dan pemahaman yang berbeda.

Saya mulai melenturkan badan dan isi kepala. Semua hal yang rumit dalam hidup, saya coba leburkan dengan cara berpikir sederhana. Ketika berpikir rumit sudah terasa sesak, saya memilih untuk kembali: berpikir simple saja.

Yogyakarta, Januari, 2022

Related posts